Membangun Kampus Inklusif:Best Practices Penyelenggaran Unit Layanan Difabel
Penulis: Ro’fah, Andyani, Muhrisun
Penerbit: Pusat Studi dan Layanan Difabel
Tahun terbit: Oktober, 2010
Versi Full Text PDF: http://bit.ly/waqf05uld

Jika buku pertama kemarin, Inklusi pada Pendidikan Tinggi, berbicara tentang penyelenggaraan pendidikan yang adaptif terhadap tunanetra, buku ini lebih berbicara tentang Unit Layanan Difabel, yaitu unit yang melayani difabel di kampus. Mengapa bukan Pusat Studi dan Layanan Difabel?

Meskipun kami sendiri bernama Pusat Studi dan Layanan Difabel, tetapi kami melihat bahwa bentuk ideal dari lembaga yang berfungsi melayani difabel itu adalah sebuah unit khusus, struktural, di kampus mengurusi kebutuhan difabel dan memastikan penyelenggaraan pendidikan yang inklusif. Sebuah pusat studi, menurut pengalaman lokal kami, tidak punya resources untuk melayani difabel.

Maka, pada tahun 2011 atau 2012, kami menyusun sebuah proposal pembentukan Unit Layanan Difabel di UIN Sunan Kalijaga. Dalam proposal itu kami mengusulkan perubahan PSLD menjadi lembaga stuktural independen seperti perpustakaan. Kalau Unit perpustakaan melayani kebutuhan kepustakaan, ULD melayani kebutuhan difabel.
Entah bagaimana ceritanya. Saat proposal itu masuk ke rektor dan mungkin juga ke senat universitas, kami tidak mengawalnya dan tidak punya akses ke penyusunan ortaker UIN. Tiba-tiba (ini versi saya yang tidak tahu proses), begitu keluar ortaker baru pada 2013, lahirlah lembaga struktural di bawah LPPM dengan nama Pusat Layanan Difabel, bukan Unit Layanan Difabel.

Tidak seperti yang kami inginkan, PLD tidak independen seperti perpustakaan, tetapi dimasukkan ke dalam struktur LPPM. Nah, karena berada di struktur LPPM, maka nomenklatur yang digunakan juga harus sama dengan yang lain. Ada dua lembaga lain di bawah LPPM: pusat pengabdian yang mengurus KKN dan pusat penelitian dan publikasi yang mengurusi penelitian dosen dan publikasinya. Maka PSLD menjadi “pusat” seperti dua pusat lainnya. ULD yang kami usulkan, diterima dengan nama baru PLD (Pusat Layanan Difabel).

Buku ini berbicara tentang bagaimana mengorganisasikan Pusat/Unit Layanan Difabel berdasarkan model kami, yang salah satu ciri khasnya adalah voluntarisme. Lembaganya struktural, tetapi layanannya diberikan secara kerelawanan. Jika Anda ingin tahu seperti apa PLD dikelola, buku ini penting untuk dibaca dan dapat gratis diunduh di sini.

NOTEFile buku disediakan dalam versi Google Drive. Untuk tunanetra, screen reader dapat membaca teks dengan cara membuka file dengan Google Doc.